Jual Beli yang Dilarang Dalam Islam

Jual Beli yang Dilarang Dalam Islam – Transaksi jual beli merupakan kegiatan yang sudah lama di kerjakan orang-orang sejak dahulu.

Jual beli di dalam Islam (ekonomi syariah) termasuk pada bagian muamalah, hal ini menjadikan setiap kegiatan transaksi jual beli yang kita lakukan telah di atur oleh agama dan secara sistematis telah ada aturan kebolehan dan rambu-rambu larangan pada setiap transaksi jual beli, tujuannya ialah untuk menciptakan kemaslahatan dalam berbisnis dan menghilangkan segala kemudharatan di dalamnya.

islam telah membuat semua peraturan dan larangan dalam jual beli untuk mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan dari kemudharatan, tujuannya agar terjadi transaksi yang adil dan tidak merugikan satu sama lain, sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu….”. (Q.S An nisa [4]: 29).

hukum asal jual beli adalah mubah (boleh), sebagaimana dijelaskan pada kaidah fiqh (Djazuli, Kaidah-Kaidah Fiqih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis, hal: 128-137.) :

الأصل فى المعاملة الإباحة إلا أن يدل دليل على تحريمها

Artinya: “Hukum asal semua bentuk muamalah adalah mubah (boleh), kecuali ada dali yang mengharamkannya (melarang)”

Inilah hukum asal dari muamalah, dalam mempelajarinya agar mudah memahami, maka pahamilah transakasi jual beli muamalah yang dilarang.

Karena, selain traksaksi yang yang tidak ada larangannya maka hukumnya adalah boleh atau mubah.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwasanya transaksi jual beli muamalah itu hukum asalnya boleh kecuali ada dalil yang melarang, maka akan mudah ketika mengetahui macam-macam jual beli yang dilarang terlebih dahulu, karena selain itu dipastikan transaksi tersebut hukumnya boleh.

Jual Beli yang Dilarang Dalam Islam

jual beli yang dilarang islam

Setiap larangan yang telah di tetapkan oleh syariat, itu pasti terdapat mudharat di dalamnya, makan babi di larang karena di dalam tubuh babi terdapat banyak bakteri yang sangat berbahaya untuk tubuh dan ini telah di buktikan oleh tim medis.

Begitu pula dengan transaksi jual beli yang dilarang, ada hal-hal yang menyebabkan mengapa jual beli tersebut tidak di perbolehkan, pastinya terdapat kerugian yang akan di dapatkan oleh pembeli atau penjual itu sendiri.

Berikut beberapa jenis jual beli yang di larang di dalam Islam dari beberapa referensi yang saya temukan:

#Jual Beli yang Menyebabkan Jauh/Melalaikan dari Ibadah

Salah satu jual beli yang dilarang dalam islam ialah menyebabkan jauh dari ibadah, Maksudnya ketika telah masuk waktu beribadah, penjual masih sibuk dengan urusan dagangannya sehingga mengakhirkan sholat berjamaah di masjid (bagi laki-laki), (Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Alih Bahasa:

Ummu Abdullah, Forbidden Business Transaction in Islam, Maktabah Raudhotul Muhibbin, hal: 7, 2008). Penjual sengaja melakukan perbuatan tersebut, hal ini telah di larang oleh Allah S.W.T dalam firmannya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ٠

Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Q.S Al jumuah [62]: 9-10).

Dan di dalam ayat lainnya Allah S.W.T berfirman juga:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (Q.S Al munafiqun [63]: 9)

Pada ayat di atas Allah menyatakan bahwasanya merugi orang-orang yang melalaikan dari mengingat Allah, walaupun hartanya berlimpah.

Ini di maksudkan merugi di dalam urusan akhirat, indikator sebuah sukses adalah tidak hanya sebatas harta tetapi sukses yang sebenarnya adalah di akhirat kelak dan lebih baiknya adalah sukses dunia maupun akhirat.

Jadi jelaslah mengapa jual beli yang dapat melalaikan dari Allah di haramkan dan tidak ada keberkahan di dalamnya.

#Menjual Barang-Barang yang Diharamkan

Kemudia jual beli yang dilarang dalam islam lainnya adalah menjual barang-barang yang diharamkan. Ketika barang yang telah Allah tetapkan haram, maka untuk menjualnya pun diharamkan (Ibid, hal: 10), sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W :

إن الله إذا حرم على قوم أكل شيء حرم عليهم ثمن

Artinya: “Sesungguhnya  Allah  jika  mengharamkan  atas  suatu  kaum memakan  sesuatu,  maka  diharamkan  pula hasil penjualannya.” (HR. Abu Daud no. 3488 dan Ahmad 1/247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari hadits diatas sudah jelas, setiap barang yang telah di haramkan maka haram juga untuk menjualnya karena mendukung dan menyebabkan sebuah kemudharatan terjadi, walaupun penjual tidak menggunakan barang haram tersebut, sebagaimana sebuah kaidah fiqh (Dr. Syeikh Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram, hal: 32, PT Bina Ilmu: 1993) :

Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram.”

Hal ini telah di jelaskan dalam sebuah hadits yang membahas bahwasanya orang yang tidak melakukan aktifitas haram tetapi membantu terlaksananya perbuatan tersebut, maka haram pula :

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ فِى اْلخَمْرِ عَشَرَةً: عَاصِرَهَا وَ مُعْتَصِرَهَا وَ شَارِبَهَا وَ حَامِلَهَا وَ اْلمَحْمُوْلَةَ اِلَيْهِ وَ سَاقِيَهَا وَ بَائِعَهَا وَ آكِلَ ثَمَنِهَا وَ اْلمُشْتَرِيَ لَهَا وَ اْلمُشْتَرَاةَ لَهُ

Artinya: “Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW melaknat tentang khamr sepuluh golongan: 1.yang memerasnya, 2.yang minta diperaskannya, 3.yang meminumnya, 4.yang mengantarkannya, 5.yang minta diantarinya, 6.yang menuangkannya, 7.yang menjualnya, 8.yang makan harganya, 9.yang membelinya, dan 10.yang minta dibelikannya”. (HR. Tirmidzi juz 2, hal. 380, no. 1313)

Begitu pula misalnya dalam contoh riba, dilaknat orang yang memakannya, yang memberikannya, penulisnya dan saksi-saksinya:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرّبَا وَ مُوْكِلَهُ وَ كَاتِبَهُ وَ شَاهِدَيْهِ، وَ قَالَ: هُمْ سَوَآءٌ

Artinya: “Rasulullah SAW melaknat orang yang makan riba, yang memberi makannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau bersabda : “Mereka itu sama”. (HR. Muslim juz 3, no 1219)

Contoh dua hadits diatas telah jelas, bahwasanya walaupun tidak melakukan perbuatan haram tetapi membantu atau melancarkan terlaksananya perbuatan tersebut, maka tetap di hukumi haram.

Pada permasalahan disini menjual merupakan sikap atau tindakan yang membantu terlaksananya perbuatan haram, walaupun menjual itu tidak melakukan perbuatan haram tersebut, seperti menjual khamr, kartu untuk judi, narkoba, dan lain-lain.

#Jual Beli (Bai) Al ‘Inah

Jual beli ‘inah merupakan jual beli yang dilarang dalam islam oleh mayoritas ulama, karena memanipulasi untuk melakukan riba. Jual beli ‘inah adalah Menjual barang dengan harga kredit dan membelinya lagi dengan harga kontan.

Untuk penjelasannya, berikut ilustrasi contoh dari transaksi jual beli (bai) al ‘inah :  A berkata kepada B “Saya jual sepeda ini, kepadamu dengan harga Rp 400.000 dibayar 4 bulan secara nagsur/kredit.” B menjawab, “Ya, saya terima.” Sampai di sini jual beli ini tidak bermasalah. Selanjutnya A berkata lagi kepada B, “Bagaimana kalau sepeda itu saya beli dengan cash tapi dengan harga Rp 500.000 saja?” B menjawab, “Ya.” Alhasil sepeda kembali ke tangan A dan B mendapatkan uang Rp 400.000 namun harus tetap memikul hutang Rp 500.000, untuk contoh detailnya bisa dilihat pada penjelasan video ini

Disebut sebagai bai’ al inah (Wahbah Al-Zuhaili, Financial Transactions in Islamic Jurisprudence Vol 1, Dasmascus: Dar al – Fikr, hal: 115, 2003) adalah karena pembeli (B) menerima suatu objek berbentuk ayn yang merupakan uang, dan bukan barang. Perbedaan antara harga pertama dengan yang kedua merupakan bunga terselubung atau bersifat riba bagi pemilik barang yang diperjual belikan.

Oleh karena itu, beliau menyimpulkan bahwa transaksi ini merupakan rekayasa untuk meminjam uang yang mengandung riba. Transaksi ini hanya rekayasa untuk mengelabuhi akad riba, dari contoh diatas dapat jelas diartikan bahwa A memberi hutang kepada B sebesar Rp 400.000 dan B akan membayar dengan Rp 500.000.

Transaksi bai’ al inah ini dipertegas dengan larangan dari hadits Ibnu Umar r.a Rasulullah saw bersabda:

عَن ابْنِ عُمَرَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إلَى دِينِكُمْ

Artinya: “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu Dawud no. 3462)

#Jual beli Mulamasah

jual beli yang dilarang dalam islam selanjutnya adalah Mulamasah, yaitu jual beli yang terjadi jika menyentuh barang maka harus membeli.

Contoh anda datang kepasar kemudian menyentuh baju maka anda harus membeli baju tersebut karena telah menyentuhnya.

Transaksi tersebut termasuk jual beli yang dilarang dalam islam, diperkuat dengan hadits dari muttafaun alaih:

أَنّ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم نَـهَى عَنِ الـمُلاَمَسَةِ وَ الـمُنَابَذَةِ

#Dan lain-lainnya

Sebenarnya masih banyak jual beli yang dilarang dalam islam, seperti jual beli bersyarat, two in one, najasy, talaqqi ruban, dan lainnya. Di lain kesempatan, saya akan coba bahas secara satu persatu agar pembahasannya secara spesifik dan lebih mendetail.

Kesimpulan

Untuk permulaan dalam memahami jual beli yang dilarang dalam islam semoga terpenuhi, ke depannya saya akan mencoba membahas secara spesifik satu persatu agar mudah dipahami.

Semoga Bermanfaat & Salam Berbagi

6 Comments

  1. Ustadz , saya mau bertanya, saya menjual barang secara kredit dgn termin 6 bulan dgn harga yg sdh sya tentukan di awal , apakah itu riba?
    Contoh : saya ambil dr pabrik harga barang 1 juta rupiah saya jual 1,5 jt dgn pembayaran dicicil selama 6 bulan apakah keuntungan yg saya ambil itu termasuk riba?

    • Bahasa tepatnya mungkin lebih ke angsuran bukan kredit, dan itu tidak mengapa karena selisih keuntungan yang didapat merupakan dari jual beli secara angsur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *